Reviewed-on: asyx021/publications#1
Menahan Kencing Terlalu Lama, Apa Akibatnya? Kenali Bahayanya
Rasa ingin buang air kecil sebenarnya merupakan salah satu sinyal alami dari tubuh yang tidak sebaiknya terus-menerus diabaikan. Ketika kandung kemih mulai terisi, sistem saraf akan mengirimkan informasi ke otak bahwa sudah waktunya mencari toilet. Pada kondisi normal, seseorang kemudian dapat mengatur kapan harus buang air kecil sampai menemukan tempat yang sesuai.
Masalahnya, aktivitas sehari-hari sering membuat seseorang memilih menunda. Pekerjaan sedang menumpuk, perjalanan belum sampai tujuan, sedang berada dalam rapat, malas meninggalkan tempat duduk, atau toilet yang tersedia dianggap kurang nyaman menjadi beberapa alasan yang membuat seseorang menahan pipis atau kencing.
Sesekali menunda buang air kecil karena kondisi tertentu tentu berbeda dengan kebiasaan sering menahan pipis selama berjam-jam. Yang perlu diperhatikan adalah ketika menahan kencing berubah menjadi pola yang dilakukan berulang kali.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), kebiasaan menahan urine secara teratur dapat membuat otot kandung kemih bekerja tidak sebagaimana mestinya dan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi saluran kemih atau ISK.
Lantas, menahan pipis apakah berbahaya? Jawabannya bergantung pada seberapa sering dilakukan, berapa lama urine ditahan, serta kondisi kesehatan saluran kemih seseorang.
Bagaimana Kandung Kemih Menyimpan Urine?
Sebelum membahas apa akibat menahan pipis, penting memahami cara kerja kandung kemih. Urine diproduksi oleh ginjal kemudian mengalir melalui ureter menuju kandung kemih. Organ berbentuk seperti kantong ini berfungsi menyimpan urine sementara sebelum dikeluarkan melalui uretra.
Ketika kandung kemih mulai terisi, dindingnya tetap relatif rileks sementara otot sfingter membantu menahan urine agar tidak keluar. Semakin banyak urine terkumpul, sinyal akan dikirim ke otak sehingga muncul rasa ingin buang air kecil. Dengan kata lain, rasa ingin pipis bukan sekadar gangguan ketika sedang bekerja atau bepergian. Sensasi tersebut merupakan bagian dari sistem komunikasi antara kandung kemih, saraf, dan otak. Karena itu, terus-menerus mengabaikan sinyal tersebut bukan kebiasaan yang ideal untuk kesehatan saluran kemih.
Menahan Pipis Apakah Bisa Menyebabkan ISK?
Salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul adalah, menahan pipis apakah bisa ISK? Jawabannya, kebiasaan menahan urine dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih. NIDDK menjelaskan bahwa ketika urine tertahan dan kandung kemih tidak dikosongkan dengan baik, kondisi tersebut dapat memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang dan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi saluran kemih. Namun, bukan berarti setiap kali seseorang menahan pipis maka otomatis akan mengalami ISK. ISK memiliki berbagai faktor risiko dan penyebab. Menahan urine secara berulang merupakan salah satu kebiasaan yang dapat meningkatkan risikonya, bukan satu-satunya penyebab. Gejala ISK yang perlu diperhatikan antara lain:
- Rasa perih atau terbakar ketika buang air kecil.
- Keinginan buang air kecil lebih sering.
- Rasa ingin pipis yang muncul secara mendesak.
- Urine tampak keruh.
- Darah dalam urine.
- Nyeri di perut bagian bawah.
- Nyeri pada punggung bagian bawah atau area sekitar pinggang.
- Demam atau menggigil pada infeksi yang lebih serius.
Jika gejala tersebut muncul dan menetap, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Akibat Sering Menahan Pipis terhadap Kandung Kemih.
Kebiasaan sering menahan pipis tidak hanya berkaitan dengan rasa tidak nyaman. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi fungsi kandung kemih.
1. Otot Kandung Kemih Dapat Mengalami Gangguan.
Kandung kemih membutuhkan otot yang dapat berkontraksi dengan baik untuk mengeluarkan urine. Jika kandung kemih terlalu sering berada dalam kondisi penuh dalam waktu lama, ototnya dapat mengalami peregangan berlebihan. NIDDK menyebutkan bahwa menahan urine secara teratur dapat membuat otot kandung kemih "wear out", sehingga fungsi pengosongan kandung kemih dapat terganggu. Dalam kondisi tertentu, peregangan kandung kemih yang berlangsung terlalu lama bahkan dapat menyebabkan kerusakan otot dan membuat kemampuan berkontraksi menurun.
2. Kandung Kemih Tidak Kosong Secara Optimal.
Dampak lain yang perlu diperhatikan adalah urine yang tersisa setelah buang air kecil. Kondisi tidak dapat mengosongkan kandung kemih sepenuhnya disebut urinary retention atau retensi urine. Kondisi ini sebenarnya memiliki banyak kemungkinan penyebab, seperti penyumbatan saluran urine, masalah prostat, gangguan saraf, atau masalah pada otot kandung kemih. Karena itu, jangan menganggap semua retensi urine semata-mata disebabkan oleh kebiasaan menahan pipis.
3. Risiko Infeksi Saluran Kemih Meningkat.
Urine yang tidak dikeluarkan secara optimal dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan bakteri berkembang. Aliran urine yang normal membantu membersihkan bakteri dari saluran kemih. Ketika proses pengosongan terganggu, risiko infeksi dapat meningkat. Inilah salah satu alasan mengapa menahan pipis bisa ISK menjadi kekhawatiran yang cukup beralasan.
4. Muncul Rasa Tidak Nyaman di Perut Bagian Bawah.
Ketika kandung kemih semakin penuh, tekanan di area tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Seseorang bisa merasa sangat ingin buang air kecil, bahkan mengalami nyeri apabila urine tidak dapat dikeluarkan. Pada retensi urine akut, misalnya, gejalanya dapat berupa keinginan kuat untuk buang air kecil tetapi tidak mampu mengeluarkan urine disertai nyeri hebat pada perut bagian bawah.
5. Dapat Berpengaruh pada Saluran Kemih Bagian Atas.
Dalam kasus retensi urine yang berat, tekanan di dalam sistem kemih dapat menyebabkan urine mengalir kembali ke arah ginjal. NIDDK mencatat bahwa kondisi retensi urine tertentu dapat menyebabkan refluks urine dan berpotensi merusak atau menimbulkan jaringan parut pada ginjal. Ini merupakan kondisi yang berbeda dari sekadar menahan pipis sesekali. Risiko tersebut terutama menjadi perhatian ketika seseorang mengalami retensi urine atau gangguan pengosongan kandung kemih yang menetap.
Menahan Pipis Berjam-Jam, Apakah Langsung Berbahaya?
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah apakah menahan pipis berjam jam pasti menyebabkan kerusakan organ. Tidak ada satu angka waktu yang dapat digunakan untuk mengatakan bahwa setelah sekian jam kandung kemih pasti rusak. Kapasitas dan frekuensi buang air kecil setiap orang dapat berbeda, dipengaruhi oleh jumlah cairan yang diminum, aktivitas, kondisi kesehatan, obat-obatan, dan faktor lainnya. Yang lebih penting adalah pola kebiasaannya. Jika seseorang sesekali harus menunda buang air kecil karena sedang dalam perjalanan atau tidak menemukan toilet, hal tersebut tidak sama dengan sengaja menahan urine setiap hari selama mungkin. Masalah mulai muncul ketika seseorang terbiasa mengabaikan rasa ingin buang air kecil dan terus memperpanjang waktu sebelum pergi ke toilet.
Apakah Menahan Pipis Bisa Menyebabkan Batu Ginjal?
Pertanyaan "menahan pipis bisa menyebabkan batu ginjal?" juga cukup sering muncul. Hubungan antara menahan urine dan batu ginjal tidak sesederhana hubungan antara menahan urine dan risiko infeksi saluran kemih. Batu ginjal terbentuk melalui proses kristalisasi zat tertentu dalam urine dan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk jenis batu, pola konsumsi cairan, kondisi medis, serta faktor lainnya.
Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa setiap orang yang sering menahan pipis pasti akan mengalami batu ginjal. Namun, menjaga hidrasi yang cukup dan kebiasaan berkemih yang sehat tetap merupakan bagian dari menjaga kesehatan sistem kemih. NIDDK menyarankan mencukupi kebutuhan cairan dan tidak membiasakan diri menahan urine terlalu lama.
Bahaya Menahan Pipis yang Sering Tidak Disadari.
Selain kemungkinan gangguan pada saluran kemih, ada beberapa dampak yang dapat muncul ketika seseorang terus mengabaikan kebutuhan untuk buang air kecil.
1.Rasa Ingin Pipis Menjadi Sangat Mendesak
Semakin lama urine ditahan, semakin kuat rasa ingin buang air kecil. Pada beberapa orang, kondisi tersebut dapat membuat mereka kesulitan mencapai toilet tepat waktu.
2. Urine Bisa Keluar Tanpa Sengaja.
Gangguan kontrol kandung kemih dapat menyebabkan kebocoran urine. NIDDK menjelaskan bahwa masalah kontrol kandung kemih dapat berupa kebocoran ketika seseorang tidak mampu mencapai toilet tepat waktu atau ketika muncul dorongan buang air kecil yang sangat kuat.
3. Kebiasaan Buang Air Kecil Menjadi Tidak Teratur.
Jika seseorang terus membiasakan diri menunda, pola buang air kecil dapat berubah. NIDDK menyarankan untuk memperhatikan perubahan kebiasaan berkemih, termasuk ketika seseorang semakin sering memperpanjang waktu antara satu kali buang air kecil dengan berikutnya.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Tidak semua keluhan akibat menahan pipis merupakan keadaan darurat. Namun, ada tanda tertentu yang membutuhkan perhatian medis segera. Segera cari pertolongan medis apabila:
- Tidak dapat buang air kecil sama sekali meskipun kandung kemih terasa penuh.
- Mengalami nyeri hebat pada perut bagian bawah.
- Urine bercampur darah.
- Mengalami demam atau menggigil bersama keluhan saluran kemih.
- Mengalami nyeri pada punggung atau area pinggang.
- Kesulitan buang air kecil yang terus berulang.
- Merasa kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong.
Ketidakmampuan mendadak untuk buang air kecil atau retensi urine akut dapat menyebabkan nyeri hebat dan membutuhkan penanganan medis segera.
Kesimpulan.
Menahan kencing sesekali tidak sama dengan kebiasaan sering menahan pipis. Tubuh memiliki mekanisme alami untuk memberi tahu kapan kandung kemih perlu dikosongkan, sehingga sinyal ingin buang air kecil sebaiknya tidak terus-menerus diabaikan. Kebiasaan menahan pipis terlalu lama dan berulang dapat mengganggu fungsi otot kandung kemih, meningkatkan risiko infeksi saluran kemih, serta dalam kondisi tertentu berkontribusi terhadap masalah pengosongan urine. Retensi urine yang berat bahkan dapat menimbulkan komplikasi pada saluran kemih dan ginjal.
Jadi, menahan pipis apakah berbahaya? Tidak setiap kejadian menunda buang air kecil akan langsung menyebabkan penyakit. Namun, menjadikannya sebagai kebiasaan bukan pilihan yang baik untuk kesehatan kandung kemih. Mendengarkan sinyal tubuh, mencukupi kebutuhan cairan, tidak sengaja menunda buang air kecil terlalu lama, dan memeriksakan perubahan pola berkemih merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan sistem kemih dalam jangka panjang.
